Oleh: Dudi Wahyudi (Widyaiswara Muda Pusdiklat Pajak)Pada dasarnya, tarif PPh Badan berdasarkan Undang-Undang Nomor 36 Tahun 2008 menganut tarif tunggal yaitu sebesar 28% pada tahun 2009 atau 25% pada tahun 2010 dan seterusnya. Namun demikian, ternyata tarif PPh Badan juga harus memperhitungkan fasilitas pengurangan tarif sebagaimana diatur dalam Pasal 31E Undang-undang tersebut. Adanya batasan peredaran usaha bagi Wajib Pajak badan yang berhak mendapatkan pengurangan tarif ini membuat tarif PPh Badan menjadi tidak sederhana. Nah, tulisan singkat ini akan mencoba menyederhanakan penghitungan PPh badan terutang dengan menyederhanakan tarifnya.Sebagaimana kita ketahui, bahwa perubahan tarif PPh Badan berdasarkan Undang-Undang Nomor 36 Tahun 2008 mulai diberlakukan untuk tahun pajak 2009. Bila berdasarkan Undang-undang Nomor 17 Tahun 2000, tarif PPh Badan merupakan tarif progresif dengan menggunakan tiga lapisan tarif, maka Undang-undang Nomor 36 Tahun 2008, dalam Pasal 17 ayat (1) huruf b dan Pasal 17 ayat (2a) menyederhanakannya dengan memperkenalkan tarif tunggal yaitu 28% tahun pajak 2009 atau 25% untuk tahun pajak 2010 dan seterusnya. Berikut adalah perubahannya.
Tarif Pasal 31ENamun demikian, Undang-undang Nomor 36 Tahun 2008 ini juga memberikan fasilitas sebagaimana diatur dalam Pasal 17 ayat (1) huruf b dan Pasal 17 ayat (2b) berupa pengurangan tarif sebesar 50% dari tarif normal. Lalu, Siapa yang berhak untuk mendapatkan fasilitas pengurangan tarif? Pasal 31E ayat (1) Undang-undang Nomor 36 Tahun 2008 menyatakan bahwa Wajib Pajak badan dalam negeri dengan peredaran bruto sampai dengan Rp 50.000.000.000,00. Bagi wajib pajak tersebut diberikan fasilitas berupa pengurangan tarif sebesar 50% dari tarif sebagaimana dimaksud dalam Pasal 17 ayat (1) huruf b dan ayat (2a).Dengan demikian, Wajib Pajak yang berhak atas fasilitas pengurangan tarif ini adalah Wajib Pajak badan dalam negeri yang peredaran brutonya tidak lebih dari Rp 50 Milyar. Jadi, selain Wajib Pajak badan dalam negeri dengan peredaran bruto kurang dari Rp 50 Milyar tidak berhak atas pengurangan tarif ini, misalnya Wajib Pajak orang pribadi dalam negeri ataupun Wajib Pajak luar negeri. Begitu Juga, Wajib Pajak badan dalam negeri yang peredaran brutonya lebih dari Rp 50 Milyar juga tidak mendapatkan fasilitas ini.Masih di Pasal 31E ayat (1), penerapan pengurangan tarif sebesar 50% inipun dibatasi yaitu hanya atas Penghasilan Kena Pajak dari bagian peredaran bruto sampai dengan Rp 4.800.000.000,00. Hal ini berarti bahwa untuk Penghasilan Kena Pajak atas bagian peredaran bruto di atas Rp4,8 Milyar sampai dengan Rp50 Milyar, tetap dikenakan tarif normal 28% (tahun pajak 2009) atau 25% (tahun pajak berikutnya).Ketentuan pengurangan tarif di atas dimaksudkan untuk mendukung program Pemerintah dalam pemberdayaan Wajib Pajak badan dalam skala usaha mikro, kecil dan menengah (UMKM). Ketentuan ini juga bertujuan untuk mengurangi beban pajak bagi Wajib Pajak badan tersebut akibat penerapan tarif tunggal sejak tahun 2009. Padahal, pada tahun sebelumnya, tarif pajak bagi Wajib Pajak UMKM ini mungkin hanya 10% atau 15% saja.Berikut ini adalah contoh penghitungan Pajak Penghasilan yang terutang berdasarkan ketentuan Pasal 31E Undang-undang Nomor 36 Tahun 2008, sebagaimana dinyatakan dalam memori penjelasannya.Misalkan peredaran bruto PT X dalam tahun pajak 2009 sebesar Rp30.000.000.000,00 dengan Penghasilan Kena Pajak sebesar Rp3.000.000.000,00, maka PPh badan terutang tahun pajak 2009 untuk PT X adalah sebagai berikut :
Berdasarkan penjelasan di atas, maka untuk Wajib Pajak badan dalam negeri, tarif pajak yang dikenakan adalah :
Tarif EfektifMenurut penulis. ketentuan Pasal 31E Undang-undang Pajak Penghasilan tersebut rasanya sulit dipahami oleh Wajib Pajak badan dalam skala UMKM. Akan lebih mudah dicerna apabila dalam menghitung PPh terutang menggunakan cara tarif pajak dikalikan langsung dengan penghasilan kena pajak.Apabila kita terjemahkan dalam bahasa matematika yang sederhana, dengan peredaran bruto kita singkat PB dan tarif PPh Badan adalah T, maka akan kita peroleh pernyataan sebagai beikut :
Sementara itu, tarif efektif apabila peredaran bruto di atas Rp4,8 Milyar tapi tidak lebih dari Rp50 Milyar harus dapat kita hitung dengan persamaan sebagai berikut :PPh adalah PPh terutang untuk tahun pajak 2010 dan tahun pajak berikutnya. PB adalah peredaran bruto (dalam rupiah) untuk satu Wajib Pajak badan dalam negeri tahun pajak 2010 atau tahun pajak berikutnya. PKP adalah Penghasilan Kena Pajak (dalam rupiah) untuk Wajib Pajak badan dalam negeri tersebut. Sementara M adalah menunjukkan angka dalam Milyar Rupiah.Mengingat bahwa besarnya PPh = T x PKP, maka tarif efektif PPh Badan bagi mereka yang memiliki peredaran bruto berada di kisaran Rp4,8 Milyar sampai dengan Rp50 Milyar adalah :Dengan demikian, misalkan apabila ada Wajib Pajak badan dalam negeri dalam tahun 2011 memiliki peredaran bruto Rp20 Milyar, maka tarif efektif PPh Badan adalah :Terlihat bahwa tarif efektif PPh Badan merupakan fungsi dari peredaran brutonya. Apabila kita gambarkan dalam bentuk grafik, dengan tarif efektif berada di sumbu y dan peredaran bruto di sumbu x, maka gambarnya adalah sebagai berikut.Nah, dengan cara perhitungan tarif PPh Badan seperti itu, menghitung PPh terutang menjadi lebih mudah bukan?KesimpulanTerdapat tiga kelompok Wajib Pajak badan dilihat dari jumlah peredaran brutonya.Pertama Wajib Pajak badan dengan peredaran bruto tidak lebih dari Rp4,8 Milyar setahun. Bagi Wajib Pajak ini, tarif PPh badan yang dikenakan adalah sebesar 50% dari tarif Pasal 17. Jadi, untuk tahun 2009, tarif PPh badan adalah 50% x 28% atau sama dengan tarif efektif 14%. Sedangkan untuk tahun 2010 dan seterusnya, tarif PPh badan adalah 50% x 25% atau sama dengan tarif efektif 12,5%.Kelompok kedua adalah Wajib Pajak badan yang memiliki peredaran bruto lebih dari Rp50 Milyar setahun. Pengurangan tarif tidak diberikan untuk kelompok Wajib Pajak ini. Artinya tarif PPh badan yang dikenakan adalah tarif Pasal 17 tanpa pengurangan, yaitu 28% untuk tahun 2009 dan 25% untuk tahun 2010 dan seterusnya.Nah, kelompok yang terakhir adalah kelompok Wajib Pajak badan yang peredaran brutonya lebih dari Rp4,8 Milyar setahun tetapi tidak lebih dari Rp50 Milyar setahun. Kelompok ini akan mendapatkan pengurangan tarif untuk sebagian penghasilan kena pajaknya. Tarif efektifnya adalah 25% - (Rp0,6 Milyar/Peredaran Bruto) sehingga angkanya akan berkisar antara 12,5% dan 25% tergantung pada besarnya peredaran bruto setahun.Rujukan
| |||||||||||||||||||||||||||||||
Senin, 27 Januari 2014
Senin, 09 Desember 2013
cinta sejati
Cinta itu untuk diperjuangkan, bukan hanya ditunggu dan ditutupi dengan gengsi. Janganlah mengatakan lebih baik jomblo seumur hidup daripada menyatakan
cinta lebih dulu. Apakah kau ingin para Malaikat mengaminkan
kesombonganmu?


Janganlah mengatakan laki-laki tidak ada yang baik, kalau yang baik tidak kau perjuangkan.
Lebih baik menyatakan cinta dan kemudian ditolak, daripada ternyata dia mencintaimu tapi terlanjur menerima orang lain yang lebih dulu menyatakan cinta.
Cinta itu lebih besar dan lebih kuat daripada gengsi.
Atau apakah gengsimu itu tanda bahwa engkau sesungguhnya tak mampu mencintai?
Kalau selama ini cinta jauh darimu, mungkinkah itu karena engkau membuat cinta merasa tak nyaman berada di dekatmu?
Sesungguhnya, cintamu hanya sebaik hatimu.
Mario Teguh - Living you all as always


Janganlah mengatakan laki-laki tidak ada yang baik, kalau yang baik tidak kau perjuangkan.
Lebih baik menyatakan cinta dan kemudian ditolak, daripada ternyata dia mencintaimu tapi terlanjur menerima orang lain yang lebih dulu menyatakan cinta.
Cinta itu lebih besar dan lebih kuat daripada gengsi.
Atau apakah gengsimu itu tanda bahwa engkau sesungguhnya tak mampu mencintai?
Kalau selama ini cinta jauh darimu, mungkinkah itu karena engkau membuat cinta merasa tak nyaman berada di dekatmu?
Sesungguhnya, cintamu hanya sebaik hatimu.
Mario Teguh - Living you all as always
Rabu, 04 Desember 2013
BALADA CINTA RENGGA (Cerpen, dimuat di Tabloid Gaul, 2011)
Bel istirahat berdentang. Pelajaran kesenian selesai sudah. Sebelum keluar kelas, Pak Dedi menghampiri Rengga.
“Tolong kamu antar buku ini ke kelas XI IPA-3! Berikan pada Dewinta!”
Tuhan, ini berkat apa kiamat, batin Rengga terkejut bukan kepalang. Hampir saja ia menolak permintaan tolong Pak Dedi. tapi ia tak punya alasan, juga yakin itu tak sopan. Duh, sungguh sebagai siswa kelas X, Rengga merasa malu untuk ke kelas XI. Apalagi itu kelas XI IPA-3.
Dag dig dug, dada Rengga berdebar. Uuuuuh, entah bagaimana warna wajahnya. Bisa jadi seperti isi keranjang tukang buah, kadang kayak cabe, tomat, atau wortel. Ah…
Sampai juga Rengga di depan kelas XI IPA-3, Rengga berhenti sejenak. Ia menata hatinya. Namun, baru saja ia melangkahkan satu kakinya ke dalam kelas, seorang siswa cewek berteriak keras.
“Hoi….itu Rengga, cowok kelas Aksel yang naksir Netta!”
Semua mata memandang ke arah Rengga. Rengga sudah nggak yakin kalau wajahnya masih ada di tempat semula. Hampir saja ia meraba apakah hidung, mata, dan bibirnya masih ada. Rengga pengin segera lari. Tapi matanya tak mau diajak kompromi. Dua bola matanya malah bergerak liar dan cepat mencari sosok gadis berambut sebahu yang duduk di bangku belakang pojok kiri. Netta, gadis yang akhir-akhir ini sering hadir di mimpinya itu tersenyum memandang Rengga. Rengga merasa Netta memandangnya seperti memandang badut lucu.
Suara siulan dan tepuk tangan menggoda Rengga semakin keras terdengar. Rengga tersadar pada tujuannya semula. Ia mendekati cowok yang duduk di bangku paling depan, dekat dengan tempatnya berdiri.
“Mas, ini ada titipan buku dari Pak Dedi,” suara Rengga terdengar gemetar.
“Iya dech ntar aku bagikan.”
Rengga keluar dan segera berlalu dari kelas itu. Masih sempat ia mencuri pandang wajah Netta. Jantungnya seperti ditarik dengan kail pancing ikan, perih, dan hampir tertinggal. Netta menatapnya tajam, tapi di sudut bibirnya samar terlihat senyum manis. Rengga segera berlalu. Takut ke ge-eran.
Rengga menuruni tangga menuju kelasnya. Kelas Netta memang berada di atas kelasnya, bukan gedung bertingkat sih, tetapi karena tekstur tanah di sekolah mereka naik turun, khas tanah daerah pegunungan.
Sesampai di kelas, Rengga menarik nafas panjang.
“Kau kenapa?” tanya Ditta, sahabat dekatnya.
“Aku habis dari kelas Mbak Netta.”
“Gila! Ngapain sih nekad banget gitu? Kangen banget ya?”
“Uh… denger dulu!…. Denger dulu….”
“Aku kan sudah bilang, jangan menemui Netta sekarang sebelum kita pastikan dia jomblo apa ada yang punya.”
“Dita, aku ke sana disuruh ngantar buku sama Pak Dedi!” jelas Rengga hampir berteriak.
Akhirnya hilang sudah kesabaran Rengga melihat kebawelan Ditta. Ditta terkejut bukan main. Tak menyangka Rengga bakal membentaknya sekeras itu. Padahal selama ini Rengga selalu baik padanya.
*****
Sabtu sore seperti biasa Rengga mengikuti latihan PMR. Nuri, siswa kelas XI Bahasa, salah seorang anggota PMR memintanya membantu membawakan dua gelas pop ice ke sanggar.
“Bantuin dong bawakan, buat temanku. Aku nunggu pesanan baksonya nih!”
“Ok dech!” jawab Rengga.
Rengga langsung membawakan dua gelas pop ice ke sanggar PMR. Dia langsung nyelonong karena memang pintu dan jendela sanggar terbuka. Ia melihat ada seorang gadis sedang duduk membelakangi pintu. Pasti dia teman Nuri, pikir Rengga.
“Mbak…. ini pop…,” belum selesai Rengga mengucapkan kalimatnya ia merasa jantungya hampir rontok.
“Hey…. kamu Rengga kan? Yang dulu mengangkatku waktu aku pingsan saat upacara?”senyum manis mengembang sempurna dari bibir gadis cantik itu.
Oho…. Rengga merasa … ah ia tak dapat menggambarkan perasaannya. Antara bahagia, kaget, malu, dan bingung harus berkata atau bersikap bagaimana. Ia hanya bisa tersenyum dan mengangguk. Andai ada teman satu kelasnya yang tahu adegan Rengga saat itu, wah bakalan rame kelasnya. Rengga yang pandai, ketua kelas X akselerasi, ber IQ 168, mantan pengibar bendera pada upacara agustusan di tingkat kota tahun ini, bagaimana mungkin mendadak berubah jadi mahluk sebego itu ya?
“Makasih lho telah menolongku.Kamu baik. Aku Netta, “ gadis cantik itu mengulurkan tangannya pada Rengga.
“Aku… ehm Rengga, Mbak,” jawab Rengga sambil menerima uluran tangan itu dengan hati berbunga-bunga.
“Panggil aja Netta,” pinta Netta lagi-lagi sambil memamerkan senyum manisnya. “Senang berkenalan dengan cowok sebaik kamu,” puji Netta.
“Itu kan memang tugas PMR, Mbak… eh Nett,” jawab Rengga diplomatis.
Netta tertawa kecil.
“Net… aku senang bisa kenalan sama Kamu,” keluar juga akhirnya pengakuan itu dari bibir Rengga.
Netta tersenyum geli melihat tingkah Rengga. Ah cowok ini lugu dan lucu sekali. Netta tahu kalau Rengga menyukainya. Ia sering melihat Rengga melintas di depan kelas dan mencuri pandang padanya. Tapi Netta pura-pura acuh saja. Akhirnya tak tahan juga perasaan Netta. Bayangkan hampir tiga minggu Rengga selalu membuntutinya kemana-mana, belum lagi teman-teman satu kelasnya yang usil menggodanya. Ambil saja, Nett, lumayan dapat brownis, begitu sering Netta diledek.
Tanpa setahu Rengga, Netta pun diam-diam mencari informasi tentang Rengga. Netta kagum saat mengetahui bahwa selain lolos masuk kelas akselerasi, Rengga juga memiliki segudang prestasi dan potensi. Tahu sendiri kan kalau syarat untuk masuk kelas akselerasi, rata-rata nilai UN SMP minimal 8.75 dan harus ber IQ minimal 135. Yang lebih membuat Netta semakin tertarik untuk mengenal Rengga adalah ternyata Rengga adalah cowok yang pertama kali menggendongnya saat pingsan pada upacara hari Senin dua bulan yang lalu.
Netta minta bantuan Nuri untuk mempertemukannya dengan Rengga. Sekarang Rengga telah berada di depannya. Cowok jenius itu ternyata mati kutu di hadapannya.
HP Netta berbunyi. Ada sms.
“Dari Nuri. Katanya dia gak jadi ke sini karena ia dijemput Heru.”
Oooo, Rengga hanya bisa mengucapkan rangkaian vokal itu tanpa suara. Ia tahu Heru, ketua PMR yang anak kelas XI Bahasa itu memang pacarnya Nuri.
“Ya udah, kita minum saja. Kuantar pulang nanti ya!” janji Rengga.
Netta mengangguk dan bergegas menghabiskan pop icenya. Segar.
Rengga menjadi lebih berani menatap mata Netta. Sikap Netta yang hangat membuat Rengga bersemangat. Seperti ada marching band dengan lagu-lagu cinta di dada Rengga.
Hari itu itu Rengga mengantar pulang Netta sampai ke rumahnya. Naik motor baru, hadiah ulang tahun ke 17 dari ayahnya. Netta adalah orang pertama yang ia boncengkan dengan motor barunya. Bunga-bunga mendadak tumbuh begitu sempurna di hatinya, apalagi sepanjang jalan, Netta memeluk pinggangnya. Duh, mesra! Rengga benar-benar merasa telah menjadi remaja. Menjadi Arjuna yang berhasil mendapatkan gadis pujaaannya.
****
Ditta sumpeg ngelihat perubahan sikap Rengga. Terus terang ia sedih melihat wajah Rengga yang sudah tiga hari ini murung. Gara-gara Netta lagi. Padahal baru Senin kemarin, berarti 15 hari yang lalu, Rengga menceritakan pertemuannya dengan Netta. Ah, Dita iri hati pada Netta yang berhasil membuat wajah Rengga begitu ceria. Tak pernah Dita melihat wajah Rengga sebahagia itu selama bersahabat dengan Rengga sejak di SD. Mungkinkah Rengga benar-benar mencinta Neta, begitu pun sebaliknya? Apakah itu berarti ia harus rela membunuh semua perasaan sayangnya pada Rengga? Ah, mungkin itu lebih baik bagi Rengga. Bukankah rasa sayangnya selalu menginginkan agar Rengga bahagia? Dilema berdentam-dentam di dada Dita.
“Dit… Kau sudah dapat berita tentang Netta?” suara Rengga mengagetkan Dita.
“Belom. Nantilah istirahat aku tanya Mbak Inne. Dia kan rumahnya dekat dengan Netta. Siapa tahu dia sudah dapat infonya.”
Rengga kembali murung dan menekukkan wajahnya. Pedih sekali hati Ditta melihat kemurungan itu. Ia sendiri sudah mencoba mencari informasi mengapa Netta sudah hampir dua minggu tak masuk sekolah. Tapi hingga pencarian hari ke sebelas usahanya sia-sia. Ia tinggal berharap pada Inne, teman satu kelas Mas Rio, kakaknya, yang kebetulan rumahnya dekat rumah Netta.
****
“Gimana? Mbak Inne sudah dapat kabar tentang Netta?” tanya Dita tak sabar begitu istirahat dan ketemu Inne di kantin sekolah.
Mereka terpaksa duduk di pojok kantin. Suasana kantin rame banget. Setelah mendapatkan makanan pesanan mereka, Ine menggeret tangan Dita sambil membawa makaannya.
“Kita makan di bawah pohon sana aja. Gak enak di sini bicaranya. Aku takut ada yang mendengarnya, bisik Inne.
Ditta nurut-nurut saja.
“Jadi gimana, Mbak?”
“Gimana ya ngomongnya? Sebenarnya gak enak juga menceritakan aib orang…..”
“Maksud Mbak?” Ditta tak mengerti.
“Dari pembantuku aku tahu kalo dua hari yang lalu Netta dinikahkan, diam-diam. Tanpa resepsi besar-besaran.”
“Hah!!!! Hari gini???? Kawin muda?”
“MBA, Dit! Netta kabarnya sudah hamil tiga bulan.”
Oh my God!, Ditta menyebut nama tuhan di hatinya. Informasi yang diberikan Inne sungguh di luar sangkanya.
Hingga bel masuk berdentang, Ditta tak menyentuh makannnya. Hilang seleranya. Ia tak tahu harus bercerita apa pada Rengga. Ia tak bisa membayangkan duka akan terlukis di wajah Rengga.
****
“Dit, gimana? Ada kabar tentang Netta?”tanya Rengga begitu Ditta duduk di bangkunya yang kebetulan tepat di sampingnya.
“Iya. Nanti saja pulang sekolah kita mampir di warung gado-gado Mak Ti. Aku lagi pengin gado-gado, nih!”
“Dit… sekarang dong ceritanya. Bikin penasaran saja.”
“Gak ah. Aku bilang nanti ya nanti.”
Kalau sudah begitu, Rengga tak mampu memaksa.
Dua jam pelajaran terasa begitu lama. Berita tentang Netta menjadi seperti tayangan adzan maghrib yang selalu dirindu tiap orang di bulan puasa.
Begitu bel pulang sekolah, Rengga dan Dita meluncur dengan motornya masing-masing. Dita sengaja memilih warung gado-gado Mak Ni karena ia tahu Rengga sangat suka makanan ini. Letak warungnya juga sangat dekat dengan rumah Rengga, cuma beda lima rumah. Jadi, kalau nanti Rengga pingsan (kok jadi berlebihan ya?), mudah mengantarnya pulang, begitu pikir Dita sebelum memutuskan memilih warung gado-gado Mak Ti.
Usai menghabiskan gado-gadonya, Dita menceritakan semua cerita Inne tentang Netta. Hampir pingsan Rengga mendengar cerita Dita.
“Sudahlah. Lebih baik kamu belajar tekun demi cita-citamu masuk ITB. Jangan sedih gitu dong! Kan ada aku, Dita, sahabatmu!” Dita menepuk-nepuk punggung Rengga beberapa kali.
Andai engkau tahu, ada aku yang begitu menyayangimu kau pasti takkan terluka, Rengga. Tapi aku tak ingin memaksakan perasaan cintaku padamu. Aku lebih memilih kau tetap menganggapku sebagai sahabat terbaikmu daripada kau tinggalkan aku setelah kau tahu aku mencintaimu, putus Dita dalam hatinya.
Rengga masih saja tak tahu bagaimana harus menghapus kesedihannya. Wajahnya masih muram saat Dita pamit pulang duluan. Mendung yang tadi menutup langit sekarang telah mengantar gerimis pertama di kota mereka. Seperti mengiringi tangis hati Rengga yang merintik di dadanya.
“Tolong kamu antar buku ini ke kelas XI IPA-3! Berikan pada Dewinta!”
Tuhan, ini berkat apa kiamat, batin Rengga terkejut bukan kepalang. Hampir saja ia menolak permintaan tolong Pak Dedi. tapi ia tak punya alasan, juga yakin itu tak sopan. Duh, sungguh sebagai siswa kelas X, Rengga merasa malu untuk ke kelas XI. Apalagi itu kelas XI IPA-3.
Dag dig dug, dada Rengga berdebar. Uuuuuh, entah bagaimana warna wajahnya. Bisa jadi seperti isi keranjang tukang buah, kadang kayak cabe, tomat, atau wortel. Ah…
Sampai juga Rengga di depan kelas XI IPA-3, Rengga berhenti sejenak. Ia menata hatinya. Namun, baru saja ia melangkahkan satu kakinya ke dalam kelas, seorang siswa cewek berteriak keras.
“Hoi….itu Rengga, cowok kelas Aksel yang naksir Netta!”
Semua mata memandang ke arah Rengga. Rengga sudah nggak yakin kalau wajahnya masih ada di tempat semula. Hampir saja ia meraba apakah hidung, mata, dan bibirnya masih ada. Rengga pengin segera lari. Tapi matanya tak mau diajak kompromi. Dua bola matanya malah bergerak liar dan cepat mencari sosok gadis berambut sebahu yang duduk di bangku belakang pojok kiri. Netta, gadis yang akhir-akhir ini sering hadir di mimpinya itu tersenyum memandang Rengga. Rengga merasa Netta memandangnya seperti memandang badut lucu.
Suara siulan dan tepuk tangan menggoda Rengga semakin keras terdengar. Rengga tersadar pada tujuannya semula. Ia mendekati cowok yang duduk di bangku paling depan, dekat dengan tempatnya berdiri.
“Mas, ini ada titipan buku dari Pak Dedi,” suara Rengga terdengar gemetar.
“Iya dech ntar aku bagikan.”
Rengga keluar dan segera berlalu dari kelas itu. Masih sempat ia mencuri pandang wajah Netta. Jantungnya seperti ditarik dengan kail pancing ikan, perih, dan hampir tertinggal. Netta menatapnya tajam, tapi di sudut bibirnya samar terlihat senyum manis. Rengga segera berlalu. Takut ke ge-eran.
Rengga menuruni tangga menuju kelasnya. Kelas Netta memang berada di atas kelasnya, bukan gedung bertingkat sih, tetapi karena tekstur tanah di sekolah mereka naik turun, khas tanah daerah pegunungan.
Sesampai di kelas, Rengga menarik nafas panjang.
“Kau kenapa?” tanya Ditta, sahabat dekatnya.
“Aku habis dari kelas Mbak Netta.”
“Gila! Ngapain sih nekad banget gitu? Kangen banget ya?”
“Uh… denger dulu!…. Denger dulu….”
“Aku kan sudah bilang, jangan menemui Netta sekarang sebelum kita pastikan dia jomblo apa ada yang punya.”
“Dita, aku ke sana disuruh ngantar buku sama Pak Dedi!” jelas Rengga hampir berteriak.
Akhirnya hilang sudah kesabaran Rengga melihat kebawelan Ditta. Ditta terkejut bukan main. Tak menyangka Rengga bakal membentaknya sekeras itu. Padahal selama ini Rengga selalu baik padanya.
*****
Sabtu sore seperti biasa Rengga mengikuti latihan PMR. Nuri, siswa kelas XI Bahasa, salah seorang anggota PMR memintanya membantu membawakan dua gelas pop ice ke sanggar.
“Bantuin dong bawakan, buat temanku. Aku nunggu pesanan baksonya nih!”
“Ok dech!” jawab Rengga.
Rengga langsung membawakan dua gelas pop ice ke sanggar PMR. Dia langsung nyelonong karena memang pintu dan jendela sanggar terbuka. Ia melihat ada seorang gadis sedang duduk membelakangi pintu. Pasti dia teman Nuri, pikir Rengga.
“Mbak…. ini pop…,” belum selesai Rengga mengucapkan kalimatnya ia merasa jantungya hampir rontok.
“Hey…. kamu Rengga kan? Yang dulu mengangkatku waktu aku pingsan saat upacara?”senyum manis mengembang sempurna dari bibir gadis cantik itu.
Oho…. Rengga merasa … ah ia tak dapat menggambarkan perasaannya. Antara bahagia, kaget, malu, dan bingung harus berkata atau bersikap bagaimana. Ia hanya bisa tersenyum dan mengangguk. Andai ada teman satu kelasnya yang tahu adegan Rengga saat itu, wah bakalan rame kelasnya. Rengga yang pandai, ketua kelas X akselerasi, ber IQ 168, mantan pengibar bendera pada upacara agustusan di tingkat kota tahun ini, bagaimana mungkin mendadak berubah jadi mahluk sebego itu ya?
“Makasih lho telah menolongku.Kamu baik. Aku Netta, “ gadis cantik itu mengulurkan tangannya pada Rengga.
“Aku… ehm Rengga, Mbak,” jawab Rengga sambil menerima uluran tangan itu dengan hati berbunga-bunga.
“Panggil aja Netta,” pinta Netta lagi-lagi sambil memamerkan senyum manisnya. “Senang berkenalan dengan cowok sebaik kamu,” puji Netta.
“Itu kan memang tugas PMR, Mbak… eh Nett,” jawab Rengga diplomatis.
Netta tertawa kecil.
“Net… aku senang bisa kenalan sama Kamu,” keluar juga akhirnya pengakuan itu dari bibir Rengga.
Netta tersenyum geli melihat tingkah Rengga. Ah cowok ini lugu dan lucu sekali. Netta tahu kalau Rengga menyukainya. Ia sering melihat Rengga melintas di depan kelas dan mencuri pandang padanya. Tapi Netta pura-pura acuh saja. Akhirnya tak tahan juga perasaan Netta. Bayangkan hampir tiga minggu Rengga selalu membuntutinya kemana-mana, belum lagi teman-teman satu kelasnya yang usil menggodanya. Ambil saja, Nett, lumayan dapat brownis, begitu sering Netta diledek.
Tanpa setahu Rengga, Netta pun diam-diam mencari informasi tentang Rengga. Netta kagum saat mengetahui bahwa selain lolos masuk kelas akselerasi, Rengga juga memiliki segudang prestasi dan potensi. Tahu sendiri kan kalau syarat untuk masuk kelas akselerasi, rata-rata nilai UN SMP minimal 8.75 dan harus ber IQ minimal 135. Yang lebih membuat Netta semakin tertarik untuk mengenal Rengga adalah ternyata Rengga adalah cowok yang pertama kali menggendongnya saat pingsan pada upacara hari Senin dua bulan yang lalu.
Netta minta bantuan Nuri untuk mempertemukannya dengan Rengga. Sekarang Rengga telah berada di depannya. Cowok jenius itu ternyata mati kutu di hadapannya.
HP Netta berbunyi. Ada sms.
“Dari Nuri. Katanya dia gak jadi ke sini karena ia dijemput Heru.”
Oooo, Rengga hanya bisa mengucapkan rangkaian vokal itu tanpa suara. Ia tahu Heru, ketua PMR yang anak kelas XI Bahasa itu memang pacarnya Nuri.
“Ya udah, kita minum saja. Kuantar pulang nanti ya!” janji Rengga.
Netta mengangguk dan bergegas menghabiskan pop icenya. Segar.
Rengga menjadi lebih berani menatap mata Netta. Sikap Netta yang hangat membuat Rengga bersemangat. Seperti ada marching band dengan lagu-lagu cinta di dada Rengga.
Hari itu itu Rengga mengantar pulang Netta sampai ke rumahnya. Naik motor baru, hadiah ulang tahun ke 17 dari ayahnya. Netta adalah orang pertama yang ia boncengkan dengan motor barunya. Bunga-bunga mendadak tumbuh begitu sempurna di hatinya, apalagi sepanjang jalan, Netta memeluk pinggangnya. Duh, mesra! Rengga benar-benar merasa telah menjadi remaja. Menjadi Arjuna yang berhasil mendapatkan gadis pujaaannya.
****
Ditta sumpeg ngelihat perubahan sikap Rengga. Terus terang ia sedih melihat wajah Rengga yang sudah tiga hari ini murung. Gara-gara Netta lagi. Padahal baru Senin kemarin, berarti 15 hari yang lalu, Rengga menceritakan pertemuannya dengan Netta. Ah, Dita iri hati pada Netta yang berhasil membuat wajah Rengga begitu ceria. Tak pernah Dita melihat wajah Rengga sebahagia itu selama bersahabat dengan Rengga sejak di SD. Mungkinkah Rengga benar-benar mencinta Neta, begitu pun sebaliknya? Apakah itu berarti ia harus rela membunuh semua perasaan sayangnya pada Rengga? Ah, mungkin itu lebih baik bagi Rengga. Bukankah rasa sayangnya selalu menginginkan agar Rengga bahagia? Dilema berdentam-dentam di dada Dita.
“Dit… Kau sudah dapat berita tentang Netta?” suara Rengga mengagetkan Dita.
“Belom. Nantilah istirahat aku tanya Mbak Inne. Dia kan rumahnya dekat dengan Netta. Siapa tahu dia sudah dapat infonya.”
Rengga kembali murung dan menekukkan wajahnya. Pedih sekali hati Ditta melihat kemurungan itu. Ia sendiri sudah mencoba mencari informasi mengapa Netta sudah hampir dua minggu tak masuk sekolah. Tapi hingga pencarian hari ke sebelas usahanya sia-sia. Ia tinggal berharap pada Inne, teman satu kelas Mas Rio, kakaknya, yang kebetulan rumahnya dekat rumah Netta.
****
“Gimana? Mbak Inne sudah dapat kabar tentang Netta?” tanya Dita tak sabar begitu istirahat dan ketemu Inne di kantin sekolah.
Mereka terpaksa duduk di pojok kantin. Suasana kantin rame banget. Setelah mendapatkan makanan pesanan mereka, Ine menggeret tangan Dita sambil membawa makaannya.
“Kita makan di bawah pohon sana aja. Gak enak di sini bicaranya. Aku takut ada yang mendengarnya, bisik Inne.
Ditta nurut-nurut saja.
“Jadi gimana, Mbak?”
“Gimana ya ngomongnya? Sebenarnya gak enak juga menceritakan aib orang…..”
“Maksud Mbak?” Ditta tak mengerti.
“Dari pembantuku aku tahu kalo dua hari yang lalu Netta dinikahkan, diam-diam. Tanpa resepsi besar-besaran.”
“Hah!!!! Hari gini???? Kawin muda?”
“MBA, Dit! Netta kabarnya sudah hamil tiga bulan.”
Oh my God!, Ditta menyebut nama tuhan di hatinya. Informasi yang diberikan Inne sungguh di luar sangkanya.
Hingga bel masuk berdentang, Ditta tak menyentuh makannnya. Hilang seleranya. Ia tak tahu harus bercerita apa pada Rengga. Ia tak bisa membayangkan duka akan terlukis di wajah Rengga.
****
“Dit, gimana? Ada kabar tentang Netta?”tanya Rengga begitu Ditta duduk di bangkunya yang kebetulan tepat di sampingnya.
“Iya. Nanti saja pulang sekolah kita mampir di warung gado-gado Mak Ti. Aku lagi pengin gado-gado, nih!”
“Dit… sekarang dong ceritanya. Bikin penasaran saja.”
“Gak ah. Aku bilang nanti ya nanti.”
Kalau sudah begitu, Rengga tak mampu memaksa.
Dua jam pelajaran terasa begitu lama. Berita tentang Netta menjadi seperti tayangan adzan maghrib yang selalu dirindu tiap orang di bulan puasa.
Begitu bel pulang sekolah, Rengga dan Dita meluncur dengan motornya masing-masing. Dita sengaja memilih warung gado-gado Mak Ni karena ia tahu Rengga sangat suka makanan ini. Letak warungnya juga sangat dekat dengan rumah Rengga, cuma beda lima rumah. Jadi, kalau nanti Rengga pingsan (kok jadi berlebihan ya?), mudah mengantarnya pulang, begitu pikir Dita sebelum memutuskan memilih warung gado-gado Mak Ti.
Usai menghabiskan gado-gadonya, Dita menceritakan semua cerita Inne tentang Netta. Hampir pingsan Rengga mendengar cerita Dita.
“Sudahlah. Lebih baik kamu belajar tekun demi cita-citamu masuk ITB. Jangan sedih gitu dong! Kan ada aku, Dita, sahabatmu!” Dita menepuk-nepuk punggung Rengga beberapa kali.
Andai engkau tahu, ada aku yang begitu menyayangimu kau pasti takkan terluka, Rengga. Tapi aku tak ingin memaksakan perasaan cintaku padamu. Aku lebih memilih kau tetap menganggapku sebagai sahabat terbaikmu daripada kau tinggalkan aku setelah kau tahu aku mencintaimu, putus Dita dalam hatinya.
Rengga masih saja tak tahu bagaimana harus menghapus kesedihannya. Wajahnya masih muram saat Dita pamit pulang duluan. Mendung yang tadi menutup langit sekarang telah mengantar gerimis pertama di kota mereka. Seperti mengiringi tangis hati Rengga yang merintik di dadanya.
Misteri Manusia Robot (2)
Ada anak aneh di sekolahku. Namanya, Nino. Oh, iya, namaku sendiri
adalah Roni. Aku berencana menyelediki misteri ini secara diam-diam.
Usai pulang sekolah aku mengikutinya hingga sampai di sebuah rumah.
Rumahnya besar sekali. Tetapi, seperti tidak terawat.
Nino tiba-tiba menghilang. Aku memberanikan diri untuk masuk ke dalam rumah itu. Aku melihat ke arah bel yang ada di tempat itu. Aku membunyikannya. Ternyata, belnya masih berfungsi! Pintu terbuka. Dan muncul seorang wanita.
"Kamu siapa?" tanyanya.
"A, aku Roni, temannya Nino. Apa Nino ada di rumah?" tanyaku.
"Masuklah. Aku akan menjelaskan semuanya," ucapnya. Aku mengikutinya masuk.
"Aku, ibunya Nino. Kamu kenal Nino dari mana?" tanyanya. Oh, ternyata dia ibunya.
"A, aku teman barunya di sekolah barunya," ucapku. Ibunya sempat kaget. Aku bingung.
"Roni, ibu tidak mau mengecewakanmu. Tapi, Nino sudah tiada di dunia ini," ucapnya. Apa?! Terus siapa yang tadi ada di sekolah?
"Mari ikut Ibu. Ibu ingin menunjukan sesuatu," ucapnya. Aku mengikutinya.
"Di sini, adalah laboratorium Nino dan ayahnya," ucapnya. Aku mendengarkan.
"Ayahnya, sudah wafat akibat jatuh dari roket percobaannya. Dia ingin sekali pergi ke bulan, dan membuat sebuah roket. Tidak ada yang ikut bersamanya. Tetapi, hasil percobaannya gagal. Roketnya kehabisan bahan bakar dan jatuh tanpa bisa dikendalikan," ucapnya. Aku ingin menangis mendengarnya.
"Dan, Nino, wafat akibat hancur bersama robotnya, yang sedang dalam masa percobaan," ucapnya. Aku turut bersedih.
"Apa robotnya masih ada? Mungkin aku bisa membetulkannya," tanyaku.
Ibu itu mengangguk. Aku mengikutinya ke ruang tempat robot itu. Astaga! Robotnya mirip sekali seperti wajah Nino yang kulihat di sekolah. Akupun bisa membetulkannya.
Akhirnya setelah misteri terpecahkan. Tetapi, misteri baru muncul lagi.
"Robot ini dirancang seperti wajah Nino," ucapnya lagi. Apa?! Siapa yang ada di sekolah bersamaku tadi? Apakah Nino atau robotnya?
Esoknya, Nino tidak masuk sekolah. Akupun semakin bingung apakah Nino itu robot atau tidak? Atau jangan-jangan yang ada di sekolah bersamaku tadi itu...
Tamat
sumber: majalah bobo
Nino tiba-tiba menghilang. Aku memberanikan diri untuk masuk ke dalam rumah itu. Aku melihat ke arah bel yang ada di tempat itu. Aku membunyikannya. Ternyata, belnya masih berfungsi! Pintu terbuka. Dan muncul seorang wanita.
"Kamu siapa?" tanyanya.
"A, aku Roni, temannya Nino. Apa Nino ada di rumah?" tanyaku.
"Masuklah. Aku akan menjelaskan semuanya," ucapnya. Aku mengikutinya masuk.
"Aku, ibunya Nino. Kamu kenal Nino dari mana?" tanyanya. Oh, ternyata dia ibunya.
"A, aku teman barunya di sekolah barunya," ucapku. Ibunya sempat kaget. Aku bingung.
"Roni, ibu tidak mau mengecewakanmu. Tapi, Nino sudah tiada di dunia ini," ucapnya. Apa?! Terus siapa yang tadi ada di sekolah?
"Mari ikut Ibu. Ibu ingin menunjukan sesuatu," ucapnya. Aku mengikutinya.
"Di sini, adalah laboratorium Nino dan ayahnya," ucapnya. Aku mendengarkan.
"Ayahnya, sudah wafat akibat jatuh dari roket percobaannya. Dia ingin sekali pergi ke bulan, dan membuat sebuah roket. Tidak ada yang ikut bersamanya. Tetapi, hasil percobaannya gagal. Roketnya kehabisan bahan bakar dan jatuh tanpa bisa dikendalikan," ucapnya. Aku ingin menangis mendengarnya.
"Dan, Nino, wafat akibat hancur bersama robotnya, yang sedang dalam masa percobaan," ucapnya. Aku turut bersedih.
"Apa robotnya masih ada? Mungkin aku bisa membetulkannya," tanyaku.
Ibu itu mengangguk. Aku mengikutinya ke ruang tempat robot itu. Astaga! Robotnya mirip sekali seperti wajah Nino yang kulihat di sekolah. Akupun bisa membetulkannya.
Akhirnya setelah misteri terpecahkan. Tetapi, misteri baru muncul lagi.
"Robot ini dirancang seperti wajah Nino," ucapnya lagi. Apa?! Siapa yang ada di sekolah bersamaku tadi? Apakah Nino atau robotnya?
Esoknya, Nino tidak masuk sekolah. Akupun semakin bingung apakah Nino itu robot atau tidak? Atau jangan-jangan yang ada di sekolah bersamaku tadi itu...
Tamat
sumber: majalah bobo
Jumat, 29 November 2013
Kamis, 28 November 2013
Miliarder Termuda Indonesia, 37 Tahun Berharta Rp 19,8 Triliun
Daftar 50 orang terkaya di Indonesia versi Forbes baru saja dirilis, dan sebagian besar daftar tersebut diduduki oleh orang tua yang berusia di atas 60 tahun.
Dari daftar tersebut, terdapat satu orang yang paling muda. Dia adalah Ciliandra Fangiono yang saat ini berusia 37 tahun. Kekayaan Ciliandra diperoleh dari bisnis kelapa sawit yang dijalankan keluarganya sejak 1992, First Resources Ltd. Tahun ini, dia masuk posisi 17 dari orang terkaya di Indonesia.
Ciliandra merupakan generasi kedua dalam bisnis yang dijalankan itu. Adapun generasi pertama adalah sang ayah, Martias. Dikutip dari situs web First Resources Ltd, hingga akhir 2012, luasan lahan yang dimiliki perusahaan ini mencapai lebih dari 146.000 hektar. Salah satu sumbangan bertambahnya luasan lahan berasal dari akuisisi kebun kelapa sawit di wilayah Riau.
Luasan lahan tersebut mengalami kenaikan dari tahun sebelumnya, yang masih di kisaran 130.000 hektar. Pada 2011 juga, perusahaan ini melakukan aksi korporasi besar, yaitu mengakusisi 100.000 hektar lahan di Kalimantan Timur. Saat ini, First Resources terdaftar di bursa efek Singapura.
Ciliandra Fangiono sebelumnya telah masuk ke dalam daftar orang terkaya sejak 2009 di posisi 18. Pada 2010, posisi Ciliandra turun menjadi di urutan ke-20. Posisi tersebut bertahan setahun setelahnya. Namun, tahun 2012, posisinya kembali naik di urutan 14 orang terkaya di negeri ini, dan pada tahun ini turun kembali di posisi 17.
Dari daftar tersebut, terdapat satu orang yang paling muda. Dia adalah Ciliandra Fangiono yang saat ini berusia 37 tahun. Kekayaan Ciliandra diperoleh dari bisnis kelapa sawit yang dijalankan keluarganya sejak 1992, First Resources Ltd. Tahun ini, dia masuk posisi 17 dari orang terkaya di Indonesia.
Ciliandra merupakan generasi kedua dalam bisnis yang dijalankan itu. Adapun generasi pertama adalah sang ayah, Martias. Dikutip dari situs web First Resources Ltd, hingga akhir 2012, luasan lahan yang dimiliki perusahaan ini mencapai lebih dari 146.000 hektar. Salah satu sumbangan bertambahnya luasan lahan berasal dari akuisisi kebun kelapa sawit di wilayah Riau.
Luasan lahan tersebut mengalami kenaikan dari tahun sebelumnya, yang masih di kisaran 130.000 hektar. Pada 2011 juga, perusahaan ini melakukan aksi korporasi besar, yaitu mengakusisi 100.000 hektar lahan di Kalimantan Timur. Saat ini, First Resources terdaftar di bursa efek Singapura.
Ciliandra Fangiono sebelumnya telah masuk ke dalam daftar orang terkaya sejak 2009 di posisi 18. Pada 2010, posisi Ciliandra turun menjadi di urutan ke-20. Posisi tersebut bertahan setahun setelahnya. Namun, tahun 2012, posisinya kembali naik di urutan 14 orang terkaya di negeri ini, dan pada tahun ini turun kembali di posisi 17.
Editor : Bambang Priyo Jatmiko
KOMPAS.com
Langganan:
Postingan (Atom)

.jpg)
.jpg)