Bel istirahat berdentang. Pelajaran kesenian selesai sudah. Sebelum keluar kelas, Pak Dedi menghampiri Rengga.
“Tolong kamu antar buku ini ke kelas XI IPA-3! Berikan pada Dewinta!”
Tuhan, ini berkat apa kiamat, batin Rengga terkejut bukan kepalang.
Hampir saja ia menolak permintaan tolong Pak Dedi. tapi ia tak punya
alasan, juga yakin itu tak sopan. Duh, sungguh sebagai siswa kelas X,
Rengga merasa malu untuk ke kelas XI. Apalagi itu kelas XI IPA-3.
Dag dig dug, dada Rengga berdebar. Uuuuuh, entah bagaimana warna
wajahnya. Bisa jadi seperti isi keranjang tukang buah, kadang kayak
cabe, tomat, atau wortel. Ah…
Sampai juga Rengga di depan kelas XI IPA-3, Rengga berhenti sejenak.
Ia menata hatinya. Namun, baru saja ia melangkahkan satu kakinya ke
dalam kelas, seorang siswa cewek berteriak keras.
“Hoi….itu Rengga, cowok kelas Aksel yang naksir Netta!”
Semua mata memandang ke arah Rengga. Rengga sudah nggak yakin kalau
wajahnya masih ada di tempat semula. Hampir saja ia meraba apakah
hidung, mata, dan bibirnya masih ada. Rengga pengin segera lari. Tapi
matanya tak mau diajak kompromi. Dua bola matanya malah bergerak liar
dan cepat mencari sosok gadis berambut sebahu yang duduk di bangku
belakang pojok kiri. Netta, gadis yang akhir-akhir ini sering hadir di
mimpinya itu tersenyum memandang Rengga. Rengga merasa Netta
memandangnya seperti memandang badut lucu.
Suara siulan dan tepuk tangan menggoda Rengga semakin keras
terdengar. Rengga tersadar pada tujuannya semula. Ia mendekati cowok
yang duduk di bangku paling depan, dekat dengan tempatnya berdiri.
“Mas, ini ada titipan buku dari Pak Dedi,” suara Rengga terdengar gemetar.
“Iya dech ntar aku bagikan.”
Rengga keluar dan segera berlalu dari kelas itu. Masih sempat ia
mencuri pandang wajah Netta. Jantungnya seperti ditarik dengan kail
pancing ikan, perih, dan hampir tertinggal. Netta menatapnya tajam, tapi
di sudut bibirnya samar terlihat senyum manis. Rengga segera berlalu.
Takut ke ge-eran.
Rengga menuruni tangga menuju kelasnya. Kelas Netta memang berada di
atas kelasnya, bukan gedung bertingkat sih, tetapi karena tekstur tanah
di sekolah mereka naik turun, khas tanah daerah pegunungan.
Sesampai di kelas, Rengga menarik nafas panjang.
“Kau kenapa?” tanya Ditta, sahabat dekatnya.
“Aku habis dari kelas Mbak Netta.”
“Gila! Ngapain sih nekad banget gitu? Kangen banget ya?”
“Uh… denger dulu!…. Denger dulu….”
“Aku kan sudah bilang, jangan menemui Netta sekarang sebelum kita pastikan dia jomblo apa ada yang punya.”
“Dita, aku ke sana disuruh ngantar buku sama Pak Dedi!” jelas Rengga hampir berteriak.
Akhirnya hilang sudah kesabaran Rengga melihat kebawelan Ditta. Ditta
terkejut bukan main. Tak menyangka Rengga bakal membentaknya sekeras
itu. Padahal selama ini Rengga selalu baik padanya.
*****
Sabtu sore seperti biasa Rengga mengikuti latihan PMR. Nuri, siswa
kelas XI Bahasa, salah seorang anggota PMR memintanya membantu
membawakan dua gelas pop ice ke sanggar.
“Bantuin dong bawakan, buat temanku. Aku nunggu pesanan baksonya nih!”
“Ok dech!” jawab Rengga.
Rengga langsung membawakan dua gelas pop ice ke sanggar PMR. Dia
langsung nyelonong karena memang pintu dan jendela sanggar terbuka. Ia
melihat ada seorang gadis sedang duduk membelakangi pintu. Pasti dia
teman Nuri, pikir Rengga.
“Mbak…. ini pop…,” belum selesai Rengga mengucapkan kalimatnya ia merasa jantungya hampir rontok.
“Hey…. kamu Rengga kan? Yang dulu mengangkatku waktu aku pingsan saat
upacara?”senyum manis mengembang sempurna dari bibir gadis cantik itu.
Oho…. Rengga merasa … ah ia tak dapat menggambarkan perasaannya.
Antara bahagia, kaget, malu, dan bingung harus berkata atau bersikap
bagaimana. Ia hanya bisa tersenyum dan mengangguk. Andai ada teman satu
kelasnya yang tahu adegan Rengga saat itu, wah bakalan rame kelasnya.
Rengga yang pandai, ketua kelas X akselerasi, ber IQ 168, mantan
pengibar bendera pada upacara agustusan di tingkat kota tahun ini,
bagaimana mungkin mendadak berubah jadi mahluk sebego itu ya?
“Makasih lho telah menolongku.Kamu baik. Aku Netta, “ gadis cantik itu mengulurkan tangannya pada Rengga.
“Aku… ehm Rengga, Mbak,” jawab Rengga sambil menerima uluran tangan itu dengan hati berbunga-bunga.
“Panggil aja Netta,” pinta Netta lagi-lagi sambil memamerkan senyum
manisnya. “Senang berkenalan dengan cowok sebaik kamu,” puji Netta.
“Itu kan memang tugas PMR, Mbak… eh Nett,” jawab Rengga diplomatis.
Netta tertawa kecil.
“Net… aku senang bisa kenalan sama Kamu,” keluar juga akhirnya pengakuan itu dari bibir Rengga.
Netta tersenyum geli melihat tingkah Rengga. Ah cowok ini lugu dan
lucu sekali. Netta tahu kalau Rengga menyukainya. Ia sering melihat
Rengga melintas di depan kelas dan mencuri pandang padanya. Tapi Netta
pura-pura acuh saja. Akhirnya tak tahan juga perasaan Netta. Bayangkan
hampir tiga minggu Rengga selalu membuntutinya kemana-mana, belum lagi
teman-teman satu kelasnya yang usil menggodanya. Ambil saja, Nett,
lumayan dapat brownis, begitu sering Netta diledek.
Tanpa setahu Rengga, Netta pun diam-diam mencari informasi tentang
Rengga. Netta kagum saat mengetahui bahwa selain lolos masuk kelas
akselerasi, Rengga juga memiliki segudang prestasi dan potensi. Tahu
sendiri kan kalau syarat untuk masuk kelas akselerasi, rata-rata nilai
UN SMP minimal 8.75 dan harus ber IQ minimal 135. Yang lebih membuat
Netta semakin tertarik untuk mengenal Rengga adalah ternyata Rengga
adalah cowok yang pertama kali menggendongnya saat pingsan pada upacara
hari Senin dua bulan yang lalu.
Netta minta bantuan Nuri untuk mempertemukannya dengan Rengga.
Sekarang Rengga telah berada di depannya. Cowok jenius itu ternyata mati
kutu di hadapannya.
HP Netta berbunyi. Ada sms.
“Dari Nuri. Katanya dia gak jadi ke sini karena ia dijemput Heru.”
Oooo, Rengga hanya bisa mengucapkan rangkaian vokal itu tanpa suara.
Ia tahu Heru, ketua PMR yang anak kelas XI Bahasa itu memang pacarnya
Nuri.
“Ya udah, kita minum saja. Kuantar pulang nanti ya!” janji Rengga.
Netta mengangguk dan bergegas menghabiskan pop icenya. Segar.
Rengga menjadi lebih berani menatap mata Netta. Sikap Netta yang
hangat membuat Rengga bersemangat. Seperti ada marching band dengan
lagu-lagu cinta di dada Rengga.
Hari itu itu Rengga mengantar pulang Netta sampai ke rumahnya. Naik
motor baru, hadiah ulang tahun ke 17 dari ayahnya. Netta adalah orang
pertama yang ia boncengkan dengan motor barunya. Bunga-bunga mendadak
tumbuh begitu sempurna di hatinya, apalagi sepanjang jalan, Netta
memeluk pinggangnya. Duh, mesra! Rengga benar-benar merasa telah menjadi
remaja. Menjadi Arjuna yang berhasil mendapatkan gadis pujaaannya.
****
Ditta sumpeg ngelihat perubahan sikap Rengga. Terus terang ia sedih
melihat wajah Rengga yang sudah tiga hari ini murung. Gara-gara Netta
lagi. Padahal baru Senin kemarin, berarti 15 hari yang lalu, Rengga
menceritakan pertemuannya dengan Netta. Ah, Dita iri hati pada Netta
yang berhasil membuat wajah Rengga begitu ceria. Tak pernah Dita melihat
wajah Rengga sebahagia itu selama bersahabat dengan Rengga sejak di SD.
Mungkinkah Rengga benar-benar mencinta Neta, begitu pun sebaliknya?
Apakah itu berarti ia harus rela membunuh semua perasaan sayangnya pada
Rengga? Ah, mungkin itu lebih baik bagi Rengga. Bukankah rasa sayangnya
selalu menginginkan agar Rengga bahagia? Dilema berdentam-dentam di dada
Dita.
“Dit… Kau sudah dapat berita tentang Netta?” suara Rengga mengagetkan Dita.
“Belom. Nantilah istirahat aku tanya Mbak Inne. Dia kan rumahnya dekat dengan Netta. Siapa tahu dia sudah dapat infonya.”
Rengga kembali murung dan menekukkan wajahnya. Pedih sekali hati
Ditta melihat kemurungan itu. Ia sendiri sudah mencoba mencari informasi
mengapa Netta sudah hampir dua minggu tak masuk sekolah. Tapi hingga
pencarian hari ke sebelas usahanya sia-sia. Ia tinggal berharap pada
Inne, teman satu kelas Mas Rio, kakaknya, yang kebetulan rumahnya dekat
rumah Netta.
****
“Gimana? Mbak Inne sudah dapat kabar tentang Netta?” tanya Dita tak sabar begitu istirahat dan ketemu Inne di kantin sekolah.
Mereka terpaksa duduk di pojok kantin. Suasana kantin rame banget.
Setelah mendapatkan makanan pesanan mereka, Ine menggeret tangan Dita
sambil membawa makaannya.
“Kita makan di bawah pohon sana aja. Gak enak di sini bicaranya. Aku takut ada yang mendengarnya, bisik Inne.
Ditta nurut-nurut saja.
“Jadi gimana, Mbak?”
“Gimana ya ngomongnya? Sebenarnya gak enak juga menceritakan aib orang…..”
“Maksud Mbak?” Ditta tak mengerti.
“Dari pembantuku aku tahu kalo dua hari yang lalu Netta dinikahkan, diam-diam. Tanpa resepsi besar-besaran.”
“Hah!!!! Hari gini???? Kawin muda?”
“MBA, Dit! Netta kabarnya sudah hamil tiga bulan.”
Oh my God!, Ditta menyebut nama tuhan di hatinya. Informasi yang diberikan Inne sungguh di luar sangkanya.
Hingga bel masuk berdentang, Ditta tak menyentuh makannnya. Hilang
seleranya. Ia tak tahu harus bercerita apa pada Rengga. Ia tak bisa
membayangkan duka akan terlukis di wajah Rengga.
****
“Dit, gimana? Ada kabar tentang Netta?”tanya Rengga begitu Ditta duduk di bangkunya yang kebetulan tepat di sampingnya.
“Iya. Nanti saja pulang sekolah kita mampir di warung gado-gado Mak Ti. Aku lagi pengin gado-gado, nih!”
“Dit… sekarang dong ceritanya. Bikin penasaran saja.”
“Gak ah. Aku bilang nanti ya nanti.”
Kalau sudah begitu, Rengga tak mampu memaksa.
Dua jam pelajaran terasa begitu lama. Berita tentang Netta menjadi
seperti tayangan adzan maghrib yang selalu dirindu tiap orang di bulan
puasa.
Begitu bel pulang sekolah, Rengga dan Dita meluncur dengan motornya
masing-masing. Dita sengaja memilih warung gado-gado Mak Ni karena ia
tahu Rengga sangat suka makanan ini. Letak warungnya juga sangat dekat
dengan rumah Rengga, cuma beda lima rumah. Jadi, kalau nanti Rengga
pingsan (kok jadi berlebihan ya?), mudah mengantarnya pulang, begitu
pikir Dita sebelum memutuskan memilih warung gado-gado Mak Ti.
Usai menghabiskan gado-gadonya, Dita menceritakan semua cerita Inne tentang Netta. Hampir pingsan Rengga mendengar cerita Dita.
“Sudahlah. Lebih baik kamu belajar tekun demi cita-citamu masuk ITB.
Jangan sedih gitu dong! Kan ada aku, Dita, sahabatmu!” Dita
menepuk-nepuk punggung Rengga beberapa kali.
Andai engkau tahu, ada aku yang begitu menyayangimu kau pasti takkan
terluka, Rengga. Tapi aku tak ingin memaksakan perasaan cintaku padamu.
Aku lebih memilih kau tetap menganggapku sebagai sahabat terbaikmu
daripada kau tinggalkan aku setelah kau tahu aku mencintaimu, putus Dita
dalam hatinya.
Rengga masih saja tak tahu bagaimana harus menghapus kesedihannya.
Wajahnya masih muram saat Dita pamit pulang duluan. Mendung yang tadi
menutup langit sekarang telah mengantar gerimis pertama di kota mereka.
Seperti mengiringi tangis hati Rengga yang merintik di dadanya.