Senin, 03 November 2014

Incoterms atau International Commercial Terms adalah kumpulan istilah yang dibuat untuk menyamakan pengertian antara penjual dan pembeli dalam perdagangan internasional. Incoterms menjelaskan hak dan kewajiban pembeli dan penjual yang berhubungan dengan pengiriman barang. Hal-hal yang dijelaskan meliputi proses pengiriman barang, penanggung jawab proses ekspor-impor, penanggung biaya yang timbul dan penanggung risiko bila terjadi perubahan kondisi barang yang terjadi akibat proses pengiriman.
Incoterms dikeluarkan oleh Kamar Dagang Internasional atau International Chamber of Commerce (ICC), versi terakhir yang dikeluarkan pada tanggal 1 Januari 2011 disebut sebagai Incoterms 2010. Incoterms 2010 dikeluarkan dalam bahasa Inggris sebagai bahasa resmi dan 31 bahasa lain sebagai terjemahan resmi. Dalam Incoterms 2010 hanya ada 11 istilah yang disederhanakan dari 13 istilah Incoterms 2000, yaitu dengan menambahkan 2 istilah baru dan menggantikan 4 istilah lama. Istilah baru dalam Incoterms 2010 yaitu Delivered at Terminal (DAT); dan Delivered at Place (DAP). Sedangkan 4 istilah lama yang digantikan yaitu: Delivered at Frontier (DAF); Delivered Ex Ship (DES); Delivered Ex Quay (DEQ); Delivered Duty Unpaid (DDU).
Pada Incoterms 2010, istilah dibagi dalam 2 kategori berdasar metode pengiriman, yaitu 7 istilah yang berlaku secara umum, dan 4 istilah yang berlaku khusus untuk pengiriman melalui transportasi air.
Tiga belas istilah dalam Incoterms 2000:
  1. EXW (nama tempat): Ex Works, pihak penjual menentukan tempat pengambilan barang.
  2. FCA (nama tempat): Free Carrier, pihak penjual hanya bertanggung jawab untuk mengurus izin ekspor dan meyerahkan barang ke pihak pengangkut di tempat yang telah ditentukan.
  3. FAS (nama pelabuhan keberangkatan): Free Alongside Ship, pihak penjual bertanggung jawab sampai barang berada di pelabuhan keberangkatan dan siap disamping kapal untuk dimuat. Hanya berlaku untuk transportasi air.
  4. FOB (nama pelabuhan keberangkatan): Free On Board, pihak penjual bertanggung jawab dari mengurus izin ekspor sampai memuat barang di kapal yang siap berangkat. Hanya berlaku untuk transportasi air.
  5. CFR (nama pelabuhan tujuan): Cost and Freight, pihak penjual menanggung biaya sampai kapal yang memuat barang merapat di pelabuhan tujuan, namun tanggung jawab hanya sampai saat kapal berangkat dari pelabuhan keberangkatan. Hanya berlaku untuk transportasi air.
  6. CIF (nama pelabuhan tujuan): Cost, Insurance and Freight, sama seperti CFR ditambah pihak penjual wajib membayar asuransi untuk barang yang dikirim. Hanya berlaku untuk transportasi air.
  7. CPT (nama tempat tujuan): Carriage Paid To, pihak penjual menanggung biaya sampai barang tiba di tempat tujuan, namun tanggung jawab hanya sampai saat barang diserahkan ke pihak pengangkut.
  8. CIP (nama tempat tujuan): Carriage and Insurance Paid to, sama seperti CPT ditambah pihak penjual wajib membayar asuransi untuk barang yang dikirim.
  9. DAF (nama tempat): Delivered At Frontier, pihak penjual mengurus izin ekspor dan bertanggung jawab sampai barang tiba di perbatasan negara tujuan. Bea cukai dan izin impor menjadi tanggung jawab pihak pembeli.
  10. DES (nama pelabuhan tujuan): Delivered Ex Ship, pihak penjual bertanggung jawab sampai kapal yang membawa barang merapat di pelabuhan tujuan dan siap untuk dibongkar. izin impor menjadi tanggung jawab pihak pembeli. Hanya berlaku untuk transportasi air.
  11. DEQ (nama pelabuhan tujuan): Delivered Ex Quay, pihak penjual bertanggung jawab sampai kapal yang membawa barang merapat di pelabuhan tujuan dan barang telah dibongkar dan disimpan di dermaga. Izin impor menjadi tanggung jawab pihak pembeli. Hanya berlaku untuk transportasi air.
  12. DDU (nama tempat tujuan): Delivered Duty Unpaid, pihak penjual bertanggung jawab mengantar barang sampai di tempat tujuan, namun tidak termasuk biaya asuransi dan biaya lain yang mungkin muncul sebagai biaya impor, cukai dan pajak dari negara pihak pembeli. Izin impor menjadi tanggung jawab pihak pembeli.
  13. DDP (nama tempat tujuan): Delivered Duty Paid, pihak penjual bertanggung jawab mengantar barang sampai di tempat tujuan, termasuk biaya asuransi dan semua biaya lain yang mungkin muncul sebagai biaya impor, cukai dan pajak dari negara pihak pembeli. Izin impor juga menjadi tanggung jawab pihak penjual.
Contoh penggunaan Incoterms 2000:
  • FCA Jakarta Incoterms 2000
  • FOB Liverpool Incoterms 2000
  • DDU Frankfurt Schmidt GmbH Warehouse 4 Incoterms 2000

Incoterms Robert Wielgorski EN.PNG


Kamis, 03 April 2014

Istilah Export dan Import


  1. Shipper adalah nama lain dari exporter atau pengirim barang. Istilah shipper ini akan selalu di pakai sebagai pengganti kata exporter / pengirim barang./ penjual.
  2. Consignee adalah nama lain dari importer atau penerima barang. Istilah ini akan selalu dipakai sebagai pengganti kata importer / penerima barang / pembeli.
  3. Notify Party adalah pihak ketiga selain Consignee yang mengetahui adanya sebuah pengiriman barang.
  4. Vessel adalah Kapal
  5. Voyage / Voy. Adalah nomor pengapalan
  6. Shipping Marks & Numbers adalah keterangan yang tertera atau tertulis dalam kemasan barang
  7. Descriptions of Goods adalah deskripsi barang
  8. Gross Weight / G.W. adalah berat kotor barang
  9. Net Weight / N.W. adalah berat bersih barang tanpa kemasan
  10. Shipping Schedule adalah Schedule Keberangkatan Kapal / Pesawat
  11. Warehouse adalah Gudang tempat penumpukan barang yang dikirim dengan tidak menggunakan container
  12. UTPK adalah Unit Tempat Penumpukan Peti Kemas
  13. DEPO adalah tempat penumpukan container kosong
  14. Delivery Order / DO adalah Surat yang diterbitkan pihak shipping atau forwarder kepada shipper sebagai tanda bukti pengambilan container kosong dan atau tanda bukti pengiriman barang dari gudang shipper ke UTPK atau Warehouse.
  15. Stuffing / Loading adalah proses pemuatan barang export kedalam container atau truck angkutan (berlaku untuk kegiatan export).
  16. UnStuffing / Unloading adalah proses pembongkaran dari dalam container atau truck angkutan (berlaku untuk kegiatan import)
  17. Feeder Vessel adalah Kapal pengangkut dari pelabuhan muat ke pelabuhan transit. Jenis kapal ini kecil hanya muat untuk mengangkut 3000an kontainer
  18. Mother Vessel adalah Kapal pengangkut / kapal besar yang mengangkut muatan dari pelabuhan transit ke pelabuhan tujuan diseluruh penjuru dunia
  19. Open Stack ( O/S ) adalah waktu dibukanya container / barang boleh di tempatkan di UTPK atau warehouse
  20. Closing Time ( C/T ) adalah waktu ditutupnya pemasukan / penumpukan barang di UTPK atau warehouse.
  21. ETD adalah Estimated Time of Departure yaitu Waktu Perkiraan Keberangkatan Kapal / Pesawat dari pelabuhan muat
  22. ETA adalah Estimated Time of Arrival yaitu Waktu Perkiraan Kedatangan Kapal / Pesawat
  23. LCL adalah Less than Container Loaded yaitu system pengiriman barang tanpa menggunakan container atau dengan kata lain pengiriman barang yang kapasitasnya dibawah standar kapasitas muat container.
  24. FCL adalah Full Container Loaded yaitu Pengiriman Barang dengan Menggunakan Kontainer.
  25. Part Of Shipment adalah Pengiriman Barang menggunakan 1 kontainer dimana didalam container tersebut terdiri dari berapa nama shipper namun dengan tujuan satu Consignee.
  26. Dry Container adalah container kering / standar yang digunakan untuk mengirim barang2 biasa yang tidak berbahaya dan bukan merupakan barang gas atau cair. COntohnya mebel, handicraft, garment, …etc
  27. Reefer Container adalah container yang memiliki pengatur suhu. Biasa digunakan untuk pengiriman produk makanan seperti Ikan hidup, Udang Hidup, buah-buahan, sayur-sayuran..dll
  28. Open Top Container adalah Kontainer yang bagian atasnya bisa dibuka / terbuka. Kontainer ini dgunakan untuk pengiriman barang yang tingginya melebihi standar ketinggian container DRY.
  29. Flat Rack Container adalah container yang bagian samping kanan dan kirinya terbuka. Kontainer ini digunakan untuk memuat barang yang lebarnya melebihi standar lebar container DRY.
  30. Space adalah tempat yang tersedia didalam kapal
  31. Booking adalah istilah untuk pemesanan tempat
  32. Shipping Instructions adalah surat pengajuan pengiriman barang yang diterbitkan oleh shipper
  33. Ocean Freigh ( O/F ) adalah biaya pengiriman barang dengan menggunakan kapal laut
  34. Air Freight ( A/F ) adalah biaya pengiriman barang dengan menggunakan pesawat
  35. F.O.B adalah Free On Board adalah system pembelian barang dimana semua biaya Pengiriman atau O/F , Asuransi dan harga barang dibayarkan setelah kapal sampai atau di pelabuan bongkar
  36. C.I.F adalah Cost Insurance & Freight adalah system pembelian barang dimana Biaya Pengiriman, Asuransi dan Harga barang dibayarkan sebelum kapal berangkat / di pelabuhan muat
  37. C & F adalah Cost and Freight adalah system pembelian barang dimana Biaya Pengiriman dan Harga Barang di bayarkan di pelabuhan muat namun asuransi menjadi tanggungan Penerima Barang.
  38. Freight Prepaid adalah Sistem pembayaran biaya pengiriman barang di pelabuhan muat
  39. Freight Collect adalah Sistem pembayaran biaya pengiriman barang di pelabuhan bongkar
  40. Bill Of Lading atau B/L adalah Surat / Dokumen yang diterbitkan oleh Shipping Line / Freight Forwarder untuk setiap pengiriman barang Export. Bill Of Lading ini di terbitkan pada tanggal keberangkatan Kapal. Bill Of Lading ini nantinya akan diberikan kepada consignee untuk mengambil barang di tempat tujuan (pengambilan import). Fungsi dari Bill Of Lading ini sangat banyak. Selain sebagai bukti pengambilan barang di tujuan, juga dilampirkan dalam proses pembuatan COO.
  41. Air Way Bill / AWB fungsi dan kegunaannya adalah sama dengan Bill Of Lading. Namun AWB ini khusus untuk pengiriman barang via Udara.
  42. Certificate of Origin adalah Sertifikat Asal Barang. Diterbitkan oleh DISPERINDAG kepada exporter. Kegunaannya adalah sebagai bukti keaslian barang dari Negara Asal yang tertera  pada Bill Of Lading
  43. Packing List adalah Daftar Sistem Pengepakan. Packing List ini diterbitkan oleh setiap exporter setiap kali akan export. Data2 Packing List inilah yang akan di muat pada Bill of Lading maupun AirWayBill. Packing List berisikan data2 Nama dan alamat Shipper, Nama dan Alamat Consignee, Nama dan Alamat Notify Party (jika ada), Nama Barang, Jumlah dan Jenis Kemasan, Jumlah barang, Berat Bersih / Net Weight, Berat Kotor / Gross Weight, Kubikasi, Shipping Marks & Numbers / Keterangan yang tertulis pada kemasan, Nama Vessel, Pelabuhan Muat, Pelabuhan Bongkar.
  44. Comemrcial Invoice adalah Daftar Nilai / Harga Barang yang tercantum dalam Packing List. Commercial Invoice ini berisikan nilai barang per item dan total nilai barang. Bill Of Lading, Packing List dan Commercial Invoice adalah bagian yang tidak terpisahkan dalam proses Export dan Import atau bisa dikatakan ketiga dokumen ini adalah 1 set dokumen Export / Import.
  45. P.O.L adalah Port Of Loading yaitu Pelabuhan Muat
  46. P.O.D adalah Port of Discharge yaitu Pelabuhan Bongkar
  47. Place of Delivery yaitu Tujuan akhir Pengiriman Barang
  48. Place of Receipt yaitu Tempat Penerimaan Barang
  49. Customs Clearance adalah proses administrasi pengiriman dan atau pengeluaran barang ke / dari Pelabuhan muat / Bongkar yang berhubungan dengan Kepabeanan dan administrasi pemerintahan.
  50. Measurement / Cubication / CBM adalah ukuran kubikasi suatu barang export baik itu. Perhitungan Kubikasi ini sangat penting dikuasai oleh para exporter untuk menentukan jenis pengirimannya. Apakah menggunakan Kontainer 20ft, 40ft,40HQ atau 45ft. Atau apabila menggunakan truck apakah akan dikirimkan dengan menggunakan truck tronton, truck angkel, truck box / diesel atau truck built up.

Contoh :
Shipper berada di Cirebon ingin mengirim barang ke DallasTX USA. Maka : 
Place Of Receipt adalah Cirebon
P.O.L nya adalah Tg. Priok, Jakarta
P.O.D nya adalah salah satu Pelabuhan di East Coast atau West Coast USA(tergantung service dari Shipping Line). Contoh salah satu pelabuhan West Coast USA adalah Los Angeles CA.

Senin, 27 Januari 2014

TARIF EFEKTIF PPh BADAN

Senin, 09 Desember 2013

cinta sejati

Cinta itu untuk diperjuangkan, bukan hanya ditunggu dan ditutupi dengan gengsi.  Janganlah mengatakan lebih baik jomblo seumur hidup daripada menyatakan cinta lebih dulu. Apakah kau ingin para Malaikat mengaminkan kesombonganmu?






Janganlah mengatakan laki-laki tidak ada yang baik, kalau yang baik tidak kau perjuangkan.

Lebih baik menyatakan cinta dan kemudian ditolak, daripada ternyata dia mencintaimu tapi terlanjur menerima orang lain yang lebih dulu menyatakan cinta.

Cinta itu lebih besar dan lebih kuat daripada gengsi.

Atau apakah gengsimu itu tanda bahwa engkau sesungguhnya tak mampu mencintai?

Kalau selama ini cinta jauh darimu, mungkinkah itu karena engkau membuat cinta merasa tak nyaman berada di dekatmu?

Sesungguhnya, cintamu hanya sebaik hatimu.

Mario Teguh - Living you all as always

Rabu, 04 Desember 2013

BALADA CINTA RENGGA (Cerpen, dimuat di Tabloid Gaul, 2011)

Bel istirahat berdentang. Pelajaran kesenian selesai sudah. Sebelum keluar kelas, Pak Dedi menghampiri Rengga.
“Tolong kamu antar buku ini ke kelas XI IPA-3! Berikan pada Dewinta!”
Tuhan, ini berkat apa kiamat, batin Rengga terkejut bukan kepalang. Hampir saja ia menolak permintaan tolong Pak Dedi. tapi ia tak punya alasan, juga yakin itu tak sopan. Duh, sungguh sebagai siswa kelas X, Rengga merasa malu untuk ke kelas XI. Apalagi itu kelas XI IPA-3.
Dag dig dug, dada Rengga berdebar. Uuuuuh, entah bagaimana warna wajahnya. Bisa jadi seperti isi keranjang tukang buah, kadang kayak cabe, tomat, atau wortel. Ah…
Sampai juga Rengga di depan kelas XI IPA-3, Rengga berhenti sejenak. Ia menata hatinya. Namun, baru saja ia melangkahkan satu kakinya ke dalam kelas, seorang siswa cewek berteriak keras.
“Hoi….itu Rengga, cowok kelas Aksel yang naksir Netta!”
Semua mata memandang ke arah Rengga. Rengga sudah nggak yakin kalau wajahnya masih ada di tempat semula. Hampir saja ia meraba apakah hidung, mata, dan bibirnya masih ada. Rengga pengin segera lari. Tapi matanya tak mau diajak kompromi. Dua bola matanya malah bergerak liar dan cepat mencari sosok gadis berambut sebahu yang duduk di bangku belakang pojok kiri. Netta, gadis yang akhir-akhir ini sering hadir di mimpinya itu tersenyum memandang Rengga. Rengga merasa Netta memandangnya seperti memandang badut lucu.
Suara siulan dan tepuk tangan menggoda Rengga semakin keras terdengar. Rengga tersadar pada tujuannya semula. Ia mendekati cowok yang duduk di bangku paling depan, dekat dengan tempatnya berdiri.
“Mas, ini ada titipan buku dari Pak Dedi,” suara Rengga terdengar gemetar.
“Iya dech ntar aku bagikan.”
Rengga keluar dan segera berlalu dari kelas itu. Masih sempat ia mencuri pandang wajah Netta. Jantungnya seperti ditarik dengan kail pancing ikan, perih, dan hampir tertinggal. Netta menatapnya tajam, tapi di sudut bibirnya samar terlihat senyum manis. Rengga segera berlalu. Takut ke ge-eran.
Rengga menuruni tangga menuju kelasnya. Kelas Netta memang berada di atas kelasnya, bukan gedung bertingkat sih, tetapi karena tekstur tanah di sekolah mereka naik turun, khas tanah daerah pegunungan.
Sesampai di kelas, Rengga menarik nafas panjang.
“Kau kenapa?” tanya Ditta, sahabat dekatnya.
“Aku habis dari kelas Mbak Netta.”
“Gila! Ngapain sih nekad banget gitu? Kangen banget ya?”
“Uh… denger dulu!…. Denger dulu….”
“Aku kan sudah bilang, jangan menemui Netta sekarang sebelum kita pastikan dia jomblo apa ada yang punya.”
“Dita, aku ke sana disuruh ngantar buku sama Pak Dedi!” jelas Rengga hampir berteriak.
Akhirnya hilang sudah kesabaran Rengga melihat kebawelan Ditta. Ditta terkejut bukan main. Tak menyangka Rengga bakal membentaknya sekeras itu. Padahal selama ini Rengga selalu baik padanya.
*****
Sabtu sore seperti biasa Rengga mengikuti latihan PMR. Nuri, siswa kelas XI Bahasa, salah seorang anggota PMR memintanya membantu membawakan dua gelas pop ice ke sanggar.
“Bantuin dong bawakan, buat temanku. Aku nunggu pesanan baksonya nih!”
“Ok dech!” jawab Rengga.
Rengga langsung membawakan dua gelas pop ice ke sanggar PMR. Dia langsung nyelonong karena memang pintu dan jendela sanggar terbuka. Ia melihat ada seorang gadis sedang duduk membelakangi pintu. Pasti dia teman Nuri, pikir Rengga.
“Mbak…. ini pop…,” belum selesai Rengga mengucapkan kalimatnya ia merasa jantungya hampir rontok.
“Hey…. kamu Rengga kan? Yang dulu mengangkatku waktu aku pingsan saat upacara?”senyum manis mengembang sempurna dari bibir gadis cantik itu.
Oho…. Rengga merasa … ah ia tak dapat menggambarkan perasaannya. Antara bahagia, kaget, malu, dan bingung harus berkata atau bersikap bagaimana. Ia hanya bisa tersenyum dan mengangguk. Andai ada teman satu kelasnya yang tahu adegan Rengga saat itu, wah bakalan rame kelasnya. Rengga yang pandai, ketua kelas X akselerasi, ber IQ 168, mantan pengibar bendera pada upacara agustusan di tingkat kota tahun ini, bagaimana mungkin mendadak berubah jadi mahluk sebego itu ya?
“Makasih lho telah menolongku.Kamu baik. Aku Netta, “ gadis cantik itu mengulurkan tangannya pada Rengga.
“Aku… ehm Rengga, Mbak,” jawab Rengga sambil menerima uluran tangan itu dengan hati berbunga-bunga.
“Panggil aja Netta,” pinta Netta lagi-lagi sambil memamerkan senyum manisnya. “Senang berkenalan dengan cowok sebaik kamu,” puji Netta.
“Itu kan memang tugas PMR, Mbak… eh Nett,” jawab Rengga diplomatis.
Netta tertawa kecil.
“Net… aku senang bisa kenalan sama Kamu,” keluar juga akhirnya pengakuan itu dari bibir Rengga.
Netta tersenyum geli melihat tingkah Rengga. Ah cowok ini lugu dan lucu sekali. Netta tahu kalau Rengga menyukainya. Ia sering melihat Rengga melintas di depan kelas dan mencuri pandang padanya. Tapi Netta pura-pura acuh saja. Akhirnya tak tahan juga perasaan Netta. Bayangkan hampir tiga minggu Rengga selalu membuntutinya kemana-mana, belum lagi teman-teman satu kelasnya yang usil menggodanya. Ambil saja, Nett, lumayan dapat brownis, begitu sering Netta diledek.
Tanpa setahu Rengga, Netta pun diam-diam mencari informasi tentang Rengga. Netta kagum saat mengetahui bahwa selain lolos masuk kelas akselerasi, Rengga juga memiliki segudang prestasi dan potensi. Tahu sendiri kan kalau syarat untuk masuk kelas akselerasi, rata-rata nilai UN SMP minimal 8.75 dan harus ber IQ minimal 135. Yang lebih membuat Netta semakin tertarik untuk mengenal Rengga adalah ternyata Rengga adalah cowok yang pertama kali menggendongnya saat pingsan pada upacara hari Senin dua bulan yang lalu.
Netta  minta bantuan Nuri untuk mempertemukannya dengan Rengga.  Sekarang Rengga telah berada di depannya. Cowok jenius itu ternyata mati kutu di hadapannya.
HP Netta berbunyi. Ada sms.
“Dari Nuri. Katanya dia gak jadi ke sini karena ia dijemput Heru.”
Oooo, Rengga hanya bisa mengucapkan rangkaian vokal itu tanpa suara. Ia tahu Heru, ketua PMR yang anak kelas XI Bahasa itu memang pacarnya Nuri.
“Ya udah, kita minum saja. Kuantar pulang nanti ya!” janji Rengga.
Netta mengangguk dan bergegas menghabiskan pop icenya. Segar.
Rengga menjadi lebih berani menatap mata Netta. Sikap Netta yang hangat membuat Rengga bersemangat. Seperti ada marching band dengan lagu-lagu cinta di dada Rengga.
Hari itu itu Rengga mengantar pulang Netta sampai ke rumahnya. Naik motor baru, hadiah ulang tahun ke 17 dari ayahnya. Netta adalah orang pertama yang ia boncengkan dengan motor barunya. Bunga-bunga mendadak tumbuh begitu sempurna di hatinya, apalagi sepanjang jalan, Netta memeluk pinggangnya. Duh, mesra! Rengga benar-benar merasa telah menjadi remaja. Menjadi Arjuna yang berhasil mendapatkan gadis pujaaannya.
****
Ditta sumpeg ngelihat perubahan sikap Rengga. Terus terang ia sedih melihat wajah Rengga yang sudah tiga hari ini murung. Gara-gara Netta lagi. Padahal baru Senin kemarin, berarti 15 hari yang lalu, Rengga menceritakan pertemuannya dengan Netta. Ah, Dita iri hati pada Netta yang berhasil membuat wajah Rengga begitu ceria. Tak pernah Dita melihat wajah Rengga sebahagia itu selama bersahabat dengan Rengga sejak di SD. Mungkinkah Rengga benar-benar mencinta Neta, begitu pun sebaliknya? Apakah itu berarti ia harus rela membunuh semua perasaan sayangnya pada Rengga? Ah, mungkin itu lebih baik bagi Rengga. Bukankah rasa sayangnya selalu menginginkan agar Rengga bahagia? Dilema berdentam-dentam di dada Dita.
“Dit… Kau sudah dapat berita tentang Netta?” suara Rengga mengagetkan Dita.
“Belom. Nantilah istirahat aku tanya Mbak Inne. Dia kan rumahnya dekat dengan Netta. Siapa tahu dia sudah dapat infonya.”
Rengga kembali murung dan menekukkan wajahnya. Pedih sekali hati Ditta melihat kemurungan itu. Ia sendiri sudah mencoba mencari informasi mengapa Netta sudah hampir dua minggu tak masuk sekolah. Tapi hingga pencarian hari ke sebelas usahanya sia-sia. Ia tinggal berharap pada Inne, teman satu kelas Mas Rio, kakaknya, yang kebetulan rumahnya dekat rumah Netta.
****
“Gimana? Mbak Inne sudah dapat kabar tentang Netta?” tanya Dita tak sabar begitu istirahat dan ketemu Inne di kantin sekolah.
Mereka terpaksa duduk di pojok kantin. Suasana kantin rame banget. Setelah mendapatkan makanan pesanan mereka, Ine menggeret tangan Dita sambil membawa makaannya.
“Kita makan di bawah pohon sana aja. Gak enak di sini bicaranya. Aku takut ada yang mendengarnya, bisik Inne.
Ditta nurut-nurut saja.
“Jadi gimana, Mbak?”
“Gimana ya ngomongnya? Sebenarnya gak enak juga menceritakan aib orang…..”
“Maksud Mbak?” Ditta tak mengerti.
“Dari pembantuku aku tahu kalo dua hari yang lalu Netta dinikahkan, diam-diam. Tanpa resepsi besar-besaran.”
“Hah!!!! Hari gini???? Kawin muda?”
“MBA, Dit! Netta kabarnya sudah hamil tiga bulan.”
Oh my God!, Ditta menyebut nama tuhan di hatinya. Informasi yang diberikan Inne sungguh di luar sangkanya.
Hingga bel masuk berdentang, Ditta tak menyentuh makannnya. Hilang seleranya. Ia tak tahu harus bercerita apa pada Rengga. Ia tak bisa membayangkan duka akan terlukis di wajah Rengga.
****  
“Dit, gimana? Ada kabar tentang Netta?”tanya Rengga begitu Ditta duduk di bangkunya yang kebetulan tepat di sampingnya.
“Iya. Nanti saja pulang sekolah kita mampir di warung gado-gado Mak Ti. Aku lagi pengin gado-gado, nih!”
“Dit… sekarang dong ceritanya. Bikin penasaran saja.”
“Gak ah. Aku bilang nanti ya nanti.”
Kalau sudah begitu, Rengga tak mampu memaksa.
Dua jam pelajaran terasa begitu lama. Berita tentang Netta menjadi seperti tayangan adzan maghrib yang selalu dirindu tiap orang di bulan puasa.
Begitu bel pulang sekolah, Rengga dan Dita meluncur dengan motornya masing-masing. Dita sengaja memilih warung gado-gado Mak Ni karena ia tahu Rengga sangat suka makanan ini. Letak warungnya juga sangat dekat dengan rumah Rengga, cuma beda lima rumah. Jadi, kalau nanti Rengga pingsan (kok jadi berlebihan ya?), mudah mengantarnya pulang, begitu pikir Dita sebelum memutuskan memilih warung gado-gado Mak Ti.
Usai menghabiskan gado-gadonya, Dita menceritakan semua cerita Inne tentang Netta. Hampir pingsan Rengga mendengar cerita Dita.
“Sudahlah. Lebih baik kamu belajar tekun demi cita-citamu masuk ITB. Jangan sedih gitu dong! Kan ada aku, Dita, sahabatmu!” Dita menepuk-nepuk punggung Rengga beberapa kali.
Andai engkau tahu, ada aku yang begitu menyayangimu kau pasti takkan terluka, Rengga. Tapi aku tak ingin memaksakan perasaan cintaku padamu. Aku lebih memilih kau tetap menganggapku sebagai sahabat terbaikmu daripada kau tinggalkan aku setelah kau tahu aku mencintaimu, putus Dita dalam hatinya.
Rengga masih saja tak tahu bagaimana harus menghapus kesedihannya. Wajahnya masih muram saat Dita pamit pulang duluan. Mendung yang tadi menutup langit sekarang telah mengantar gerimis pertama di kota mereka. Seperti mengiringi tangis hati Rengga yang merintik di dadanya.


Misteri Manusia Robot (2)

Ada anak aneh di sekolahku. Namanya, Nino. Oh, iya, namaku sendiri adalah Roni. Aku berencana menyelediki misteri ini secara diam-diam. Usai pulang sekolah aku mengikutinya hingga sampai di sebuah rumah. Rumahnya besar sekali. Tetapi, seperti tidak terawat.
Nino tiba-tiba menghilang. Aku memberanikan diri untuk masuk ke dalam rumah itu. Aku melihat ke arah bel yang ada di tempat itu. Aku membunyikannya. Ternyata, belnya masih berfungsi! Pintu terbuka. Dan muncul seorang wanita.
"Kamu siapa?" tanyanya.
"A, aku Roni, temannya Nino. Apa Nino ada di rumah?" tanyaku.
"Masuklah. Aku akan menjelaskan semuanya," ucapnya. Aku mengikutinya masuk.
"Aku, ibunya Nino. Kamu kenal Nino dari mana?" tanyanya. Oh, ternyata dia ibunya.
"A, aku teman barunya di sekolah barunya," ucapku. Ibunya sempat kaget. Aku bingung.
"Roni, ibu tidak mau mengecewakanmu. Tapi, Nino sudah tiada di dunia ini," ucapnya. Apa?! Terus siapa yang tadi ada di sekolah?
"Mari ikut Ibu. Ibu ingin menunjukan sesuatu," ucapnya. Aku mengikutinya.
"Di sini, adalah laboratorium Nino dan ayahnya," ucapnya. Aku mendengarkan.
"Ayahnya, sudah wafat akibat jatuh dari roket percobaannya. Dia ingin sekali pergi ke bulan, dan membuat sebuah roket. Tidak ada yang ikut bersamanya. Tetapi, hasil percobaannya gagal. Roketnya kehabisan bahan bakar dan jatuh tanpa bisa dikendalikan," ucapnya. Aku ingin menangis mendengarnya.
"Dan, Nino, wafat akibat hancur bersama robotnya, yang sedang dalam masa percobaan," ucapnya. Aku turut bersedih.
"Apa robotnya masih ada? Mungkin aku bisa membetulkannya," tanyaku.
Ibu itu mengangguk. Aku mengikutinya ke ruang tempat robot itu. Astaga! Robotnya mirip sekali seperti wajah Nino yang kulihat di sekolah. Akupun bisa membetulkannya.
Akhirnya setelah misteri terpecahkan. Tetapi, misteri baru muncul lagi.
"Robot ini dirancang seperti wajah Nino," ucapnya lagi. Apa?! Siapa yang ada di sekolah bersamaku tadi? Apakah Nino atau robotnya?
Esoknya, Nino tidak masuk sekolah. Akupun semakin bingung apakah Nino itu robot atau tidak? Atau jangan-jangan yang ada di sekolah bersamaku tadi itu...
Tamat

sumber: majalah bobo